Selasa, 20 Oktober 2015

MAKNA PROFESIONALISME GURU


Istilah profesional pada umumnya adalah orang yang mendapat upah atau gaji dari apa yang dikerjakan, baik dikerjakan secara sempurna maupun tidak. (Martinis Yamin, 2007). Dalam konteks ini bahwa yang dimaksud dengan profesional adalah guru. Pekerjaan profesional ditunjang oleh suatu ilmu tertentu secara mendalam yang hanya mungkin diperoleh dari lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai sehingga kinerjanya didasarkan kepada keilmuan yang dimilikinya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Wina Sanjaya, 2008). Dengan demikian seorang guru perlu memiliki kemampuan khusus, kemampuan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang yang bukan guru ”a teacher is person sharged with the responbility of helping orthers to learn and to behave in new different ways” (Cooper, 1990).
Profesionalisme guru adalah kemampuan guru untuk melakukan tugas pokoknya sebagai pendidik dan pengajar meliputi kemampuan merencanakan, melakukan, dan melaksanakan evaluasi pembelajaran. Pada prinsipnya setiap guru harus disupervisi secara periodik dalam melaksanakan tugasnya. Jika jumlah guru cukup banyak, maka kepala sekolah dapat meminta bantuan wakilnya atau guru senior untuk melakukan supervisi. Keberhasilan kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh meningkatnya kinerja guru yang ditandai dengan kesadaran dan keterampilan melaksanakan tugas secara bertanggung jawab.
"Lalu bagaimana jika seorang guru di tuntut keprofesionalitasnya sebagai guru yang berada didaerah terpencil, terbelakang, dan terpelosok? Dan apa yang akan dilakukan seorang guru jika diminta untuk mengabdi di daerah tersebut?"
Berikut mungkin sedikit uraian yang dapat menjawab pernyataan tersebut.
Mengenai profesionalitas seorang guru yang berada di daerah terpencil itu merupakan pengabdian yang sangat mulia. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab dan hati nurani seorang guru, karena tidak semua guru bersedia dan mampu mengabdi di daerah terpencil. Hanya guru-guru yang mempunyai tekad mulia yang bisa benar-benar mengabdi dan ikut serta membimbing tunas-tunas bangsa dari keterbelakangan menjadi berwawasan luas dan tentunya mempunyai masa depan yang lebih cerah. Butuh tekad ataupun niat yang kuat untuk para guru mengamalkan ilmu nya di daerah terpencil. bukan hanya sekedar upah namaun pengabdian yang tidak bisa dinilai dengan uang.
Dan mungkin yang harus dilakukan jika seorang guru di tugaskan atau harus mengajar / mengabdi di daerah terpencil tersebut yakni, guru harus lebih menyiapkan mental sebaik mungkin dan tentunya ilmu-ilmu yang akan di ampunya / di ajarkan nantinya. Mencari tau informasi daerah yang akan di tempati, letak geografisnya, penduduknya dan lain-lain supaya seorangv guru cepat mudah beradaptasi disana. dan berusaha melakukan tugas semaksimal mungkin untuk mengabdi disana karena itu sebuah amanah yang mulia.
Pengembangan profesionalisme guru harus dipandang sebagai proses yang terus menerus. Dalam proses ini, pendidikan prajabatan, pendidikan dalam jabatan termasuk penataran, pembinaan dari organisasi profesi dan tempat kerja, penghargaan masyarakat terhadap profesi keguruan, penegakan kode etik profesi, sertifikasi, peningkatan kualitas calon guru, imbalan, dll secara bersama-sama menentukan pengembangan profesionalisme seseorang termasuk guru.


Selasa, 13 Oktober 2015

Tak Harus Bersama

Terheran saya dengan mereka yang selalu memasang status galau di facebook. Setiap hari berisi gundah dan keluhan. Terlebih bagi yang sedang putus cinta, rasanya mereka sudah shalat di facebook. Hampir setiap status ada kata, “ya Allah”.

Membaca itu, kadang saya merasa kasihan kadang pula tersenyum tak mengerti. Mungkin karena cara yang ditempuh kurang tepat sehingga galau selalu melekat. Kawan, pacaran itu tak resmi, jadi jangan salahkan jika dia selingkuh. Pacaran itu hanya main-main, jangan marah kalau ia mempermainkanmu. Saya tidak menyinggungmu, hanya berbicara pada mereka yang pacaran, :D

Cinta itu selalu sederhana bagi mereka yang mampu menyederhanakannya. Cinta itu senantiasa bahagia, untuk mereka yang sanggup menaklukkan bukan jatuh kedalamnya.

Meminjam istilah ustad Salim A. Fillah, hendaklah kita membangun cinta bukan jatuh cinta. Karena membangun cinta pada dasarnya adalah memberi dan berkarya. Bukan menerima, mengeluh dan bergalau ria.


Meletakkan Kebahagian

Untuk mereka yang galau dan sedih diputus cinta, inilah saatnya untuk berbenah. Allah sedang memberimu kesempatan untuk kembali ke jalanNya. Gunakan kesempatan ini untuk taat dengan aturanNya.

Bahagia selalu sederhana untuk mereka yang mampu menyederhanakannya. Jika persepsi bahagiamu adalah hidup bersamanya, maka saat takdir berkata lain, tentu bahagia akan lenyap dari sisimu. Percayalah, cinta tak harus memiliki. Karena cinta pada dasarnya adalah merelakan. Jika benar dia jodohmu tentu akan kembali setelah pergi.


Tak Harus Bersama

Kadang hati memaksa Allah untuk memberikan ia untukku
Padahal hati tahu, Allah Maha Tahu apa yang tebaik untukku
Kadang hati memaksa Allah untuk memberikanku untukmu
Padahal hati tak tahu, siapa sebenarnya diriku

Langkah-langkah gundah
Doa-doa sepi
Cinta yang perih
Itu jika harap tersalah sandar

Diam adalah satu pilihan
Tapi harap jangan tersalah sandar
Berharap pada Allah untuknya adalah bahagia
Berharap padanya dan lupa pada Allah adalah sengsara

Sabtu, 10 Oktober 2015

HUKUM PACARAN MENURUT ISLAM?

Pacaran dalam Islam


Gimana sich sebenernya pacaran itu, enak ngga' ya? Bahaya ngga' ya ? Apa bener pacaran itu harus kita lakukan kalo mo nyari pasangan hidup kita ? Apa memang bener ada pacaran yang Islami itu, dan bagaimana kita menyikapi hal itu? Memiliki rasa cinta adalah fitrahKetika hati udah terkena panah asmara, terjangkit virus cinta, akibatnya...... dahsyat man...... yang diinget cuma si dia, pengen selalu berdua, akan makan inget si dia, waktu tidur mimpi si dia. Bahkan orang yang lagi fall in love itu rela ngorbanin apa aja demi cinta, rela ngelakuin apa aja demi cinta, semua dilakukan agar si dia tambah cinta. Sampe' akhirnya....... pacaran yuk.

 Cinta pun tambah terpupuk, hati penuh dengan bunga. Yang gawat lagi, karena pengen bukti'in cinta, bisa buat perut buncit (hamil). Karena cinta diputusin bisa minum baygon. Karena cinta ditolak .... dukun pun ikut bertindak.Sebenarnya manusia secara fitrah diberi potensi kehidupan yang sama, dimana potensi itu yang kemudian selalu mendorong manusia melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Potensi ini sendiri bisa kita kenal dalam dua bentuk. 
 Pertama, yang menuntut adanya pemenuhan yang sifatnya pasti, kalo ngga' terpenuhi manusia bakalan binasa. Inilah yang disebut kebutuhan jasmani (haajatul 'udwiyah), seperti kebutuhan makan, minum, tidur, bernafas, buang hajat de el el. Kedua, yang menuntut adanya pemenuhan aja, tapi kalo' kagak terpenuhi manusia ngga' bakalan mati, cuman bakal gelisah (ngga' tenang) sampe' terpenuhinya tuntutan tersebut, yang disebut naluri atau keinginan (gharizah).

 Kemudian naluri ini di bagi menjadi 3 macam yang penting yaitu :Gharizatul baqa' (naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, cinta harta, cinta pada kedudukan, pengen diakui, de el el.Gharizatut tadayyun (naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.Gharizatun nau' (naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, temen, sodara, kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi kepada lawan jenis.

Adapun resep nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud: "Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu."(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).Wallahu A'lam bish-ShowabPacaran dalam perspektif islamIn fact, pacaran merupakan wadah antara dua insan yang kasmaran, dimana sering cubit-cubitan, pandang-pandangan, pegang-pegangan, raba-rabaan sampai pergaulan ilegal (seks).


 Islam sudah jelas menyatakan: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Q. S. Al Isra' : 32)Seringkali sewaktu lagi pacaran banyak aktivitas laen yang hukumnya wajib maupun sunnah jadi terlupakan. Sampe-sampe sewaktu sholat sempat teringat si do'i. Pokoknya aktivitas pacaran itu dekat banget dengan zina. So....kesimpulannya PACARAN ITU HARAM HUKUMNYA, and kagak ada legitimasi Islam buatnya, adapun beribu atau berjuta alasan tetep aja pacaran itu haram.Jangan suka mojok atau berduaan ditempat yang sepi, karena yang ketiga adalah syaiton. 


Seperti sabda nabi: "Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syaiton menemaninya, janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya." (HR. Imam Bukhari Muslim).Dan untuk para muslimah jangan lupa untuk menutup aurotnya agar tidak merangsang para lelaki. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya." (Q. S. An Nuur : 31). Dan juga sabda Nabi: "Hendaklah kita benar-benar memejakamkan mata dan memelihara kemaluan, atau benar-benar Allah akan menutup rapat matamu."(HR. Thabrany).


Yang perlu di ingat bahwa jodoh merupakan QADLA' (ketentuan) Allah, dimana manusia ngga' punya andil nentuin sama sekali, manusia cuman dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Tercantum dalam Al Qur'an: "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)."


Wallahu A'lam bish-Showab
Oleh: Buletin Dakwah Remas RIHLAH SMU N I Sooko, edisi 6, 1421 H
Disalin dari Lembar Buletin Dakwah BINTANG (2)

Dikutip dari http://www.alislam.or.id/artikel/arsip/00000028.html